Beni Pramula: Harkitnas Bisa Jadi Momentum Refleksi dan Sadarkan Tentang Cita-cita Bangsa


SUARA INDEPENDEN. COM- Tonggak sejarah 20 Mei 1908 merupakan hari kelahiran sebuah organisasi bernama Budi Utomo. Organisasi yang kemudian menjadi cikal bakal pergerakan nasionalisme di Indonesia.


Organisasi yang didirikan oleh Wahidin Soedirohusodo ini memang merupakan organisasi modern pertama pada masanya. Meski masih bersifat kedaerahan kala itu, namun organisasi yang beranggotakan para pelajar Stovia ini menjadi penanda bagi bangsa Indonesia bahwa persatuan dan kesatuan merupakan hal penting dalam pergerakan melawan penjajah.


“Boedi Oetomo didirikan karena adanya kesadaran akan persatuan oleh generasi muda yang terdidik dan tercerahkan. Kesadaran persatuan kultural inilah yang merupakan embrio munculnya kesadaran persatuan yang lebih luas yakni kesadaran nasional lewat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928,” ujar Presiden Asian-African Youth Government Beni Pramula di Jakarta, Senin (21/5).


Beni menjelaskan, perjalanan sejarah telah bergulir ke era reformasi dua dasawarsa yang lalu telah membawa perubahan lanscape kehidupan kebangsaan ke arah yang lebih demokratis. Kebebasan dalam berserikat, berkumpul, dan berpendapat terbuka selebar-lebarnya. Demokrasi politik sebagai bagian dari tuntutan agenda reformasi telah berjalan sebagaimana mestinya.


Hasilnya adalah masifnya partisipasi warga negara untuk ikut serta dalam menentukan arah Indonesia dimasa yang akan datang.


Namun demikian, kata Beni, demokrasi politik yang sudah berjalan dengan baik tersebut belum menyentuh jantung tuntutan reformasi. Dimana, inti tuntutan itu adalah terjadinya demokrasi ekonomi yang membawa kepada keadilan sosial untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan melindungi segenap tumpah darah Indonesia.


“Data dari survey Indo Barometer dalam tajuk ‘Evaluasi 20 Tahun Reformasi’ yang dirilis Minggu (20/5) kemarin, dalam pertanyaan terbuka muncul masalah-masalah diantaranya; perekonomian rakyat sebanyak 20,4 persen, sulitnya lapangan pekerjaan 9,3 persen, korupsi dan nepotisme 7,8 peesen, harga kebutuhan pokok mahal 5,9 persen dan tingkat kemiskinan 4,2 persen,” papar Beni.


Menurut Beni, angka-angka ini menunjukkan bahwa tuntutan utama reformasi bak panggang jauh dari api. Oleh karenanya, sudah saatnya energi bangsa ini dirahkan kepada tercapainya masalah-masalah mendasar warga negara. Sebab prasyarat tuntantasnya cita-cita reformasi adalah terpenuhinya rasa keadilan bagi semua tanpa diskriminasi dan marginalisasi.


Dia juga mengungkapkan, realitas masyarakat Indonesia kini kian terbelah dalam kubangan kebencian, saling tebar isu dan hasutan. Media sosial sebagai upaya membangun jejaring sosial agar tercipta suasana guyub dan rukun, berubah menjadi arena permusuhan sesama anak bangsa.

“Hal ini tentu sangat memprihatinkan. Sebab, disaat anak-anak bangsa di seluruh penjuru dunia sedang berderap deru menangkap perubahan zaman, kita masih saja berada pada arena destruktif yang saling menihilkan peran satu dengan lainnya,” terang dia.


Dia menjelaskan, jika kaum muda terjebak dalam langgam perpecahan tersebut, maka bangsa ini kian sulit untuk mengejar ketertinggalan di segala bidang. Padahal peran kaum muda sangatlah penting sebagai mediator dalam menjembatani silang sengkarut pada diri bangsa ini.

Dia mengungkapkan, kaum muda dalam sejarahnya adalah jembatan aspirasi, dimana mereka berangkat dari titik kesadaran. Mereka keluar dari buritan konflik dan tampil sebagai katalisator perbaikan dan perubahan.


“Era reformasi membuka jalan kepada kaum muda untuk berperan besar dalam segala bidang. Prosedur-prosedur demokrasi telah berjalan sebagaimana kaidahnya. Tugas kita sebagai kaum muda adalah membuat prosedur itu semakin berarti dan mempunyai dampak langsung kepada bangsa. Bahwa subtansi demokrasi adalah tercapainya keadilan dan kesejahteraan,” tambahnya.


Tugas kaum muda, lanjut dia, adalah mendorong kepada pemerintah untuk menciptakan pemerataan pembangunan, memperkecil jurang kesenjangan kaya dan miskin, akses pendidikan berkualitas, akses kesehatan terjangkau, memberikan kepastian hukum dan penegakan hukum yang berkeadilan.


Tak hanya itu, tambah dia, tantangan generasi milenial hari ini adalah bagaimana membangun sebuah peradaban bangsa yang lebih maju, berdaulat ke depan. Sebab bangkitnya suatu negara tidak hanya sebatas bertumpu pada segi tingginya ilmu pengetahuan dan teknologi yang amat pesat berkembangan hari ini, namun lebih dari itu maju dan berkembangnya peradaban dan kebudayaan manusia yang tinggal di negara tersebut, anak-anak mudanya sebagai generasi pembaharu dan penerus cita-cita perjuangan pendahulu haruslah berfikir progresif, bertindak nyata dan banyak berkarya positif untuk mengisi pembangunan.

Oleh sebab itu, kata dia lagi, jelaslah sudah bahwa bangkitnya suatu bangsa dan negara dilihat dari seberapa beradab, maju dan terdidiknya manusia yang ada di negara tersebut, bukan banyaknya peralatan teknologi, melainkan apakah kebijakan dari pemerintah dan orang yang ada memiliki adab yang tinggi yang tentunya melihat nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan.

“Untuk itulah kita generasi zaman Now yang mewarisi semangat heroik para pendahulu bangsa hendaknya dapat meneruskan semangat mereka dalam pembangunan kerja nyata, membangun Indonesia yang maju, adil makmur, sejahtera dan berdaulat,” demikian Beni.





Senin, 21 Mei 2018.
Jurnalis: Rizki
Editor: Anwar