Retorika Podium dan Sandiwara Politik



SUARA INDEPENDEN. COM- Ketika menguji suara hatinya sendiri yang keliru,pemikiran tidak hanya memperhatikan kegunaan afirmatif dari ilmu dan bahasa konseptual, gagasan, cara berfikir itu juga dewasa,ini tampak telah mengandung benih pembalikan universal.Jika pencerahan tidak mengakomodasi refleksi pada unsurnya recidivistnya,maka Ia mengunci nasibnya sendiri.

Maka secara buta pemikiran yang dipragmatiskan kehilangan kualitas transendennya dan hubungan kebenaran nya akan Runtuh.

Rakyat sangat kenyang janji manis makin hari ini mengenang janji palsu di masa-masa kelam, bahasa yang manis dan menjadi terlena seakan muncul kebenaran,sudakah membawa perubahan yang signifikan dan pasti atas janjinya itu.

Ketika mengulas kembali oleh kandidat pada saat kampanye  pada tahun 2013 lalu,semua masyarakat  menelan janji-janji palsu itu dengan harapan memiliki pemimpin yang mempunyai integritas dan lidersip yang mampan' sayang terjadi di luar dugaan masyarakat merosot dan tidak berdampak positif dari janji kampanye itu sendiri .

Bila keadaan hari ini demikian ,bagimana nasib masa depan kabupaten jayawijaya sendiri, undur meragukan saat itu ketika nasib saudaraku yang mendahului gelar sarjana dan tak juga di beri kesempatan.

Saya tidak menyalahkan pemimpin kabupaten jayawijaya, namun keadaan objektif mengundang saya untuk memproteksi sehingga kebenaran tidak semata mata kesadaran rasional tetapi sama juga bentuk yang di diasumsikan kesadaran di dalam kehidupan nyata agar berdampak positif bagi masyarakat .

Apakah pemilukada serentak tahun 2018 mendatang ada harapan untuk kabupaten jayawijaya,? Baik dari sisi yang menguntungkan masyarakat dan kemajuan pembangunan kabupaten itu sendiri, kondisi objektif dan fundamental adalah pendidikan dan kesehatan, berbicara tetang pendidikan dan kesehatan berarti kita akan  berbicara terkait sistem pelayanan,penyedian layanan,dan peran aktif penerima layanan.ada beberapa daerah kecamatan (distrik) 
Tidak berjalan efektif.

  SD Inpres siepkosi misalknya Masuk jam 8 pulang jam 10 ini bagiman logikanya,apa ka kurang perhatian oleh pemerintah atau ada faktor laian? Ketidak lancaran ini hampir selalu di alami oleh beberapa daerah,belum lagi kita lihat dari sisi infrastrukturnya di dalam kota jalan-jalan banyak berlubang setinggi got apalagi di pinggiran kota belum di proyeksi lagi dari aspek ekonomi dan juga sosial, keadaan hari ini di kabupaten jayawijaya lebih prihatin dari kabupaten pemekaran.

Pemerintah lebih fokus dengan pemilukada serentak 2018 ketimbang membiarkan kondisi masyarakat di biarakan begitu saja.
Jika hari ini kondisi EKOSOB seperti ini,Pertanyaan yang muncul dalam benak masyarakat adalah janji manis politik penuh dengan penipuan demi mencari kekuasaan.

Tolak ukur ada pada kinerja  hari ini,bagiman mau jadi Gubernur kalau kondisi kabupaten demikian?
Bagimana mau jadi bupati sedangkan hari ini nyatanya adalah seorang Kepalah pemerintahan karna semua sibuk dengan mengurus dan mempersiapkan untuk menghadapai pesta demokrasi 2018 mendatang.
Bagi mana mau jadi pemimpin orang banyak kalau anda  tidak mau di kritisi atas program yang pro rakyat,

"Tanya saja kepada rumput yang bergoyang"masyarakat awam sudah punya sudut pandang  tersendiri, kinerja pemimpin hari ini,Dia buat apa,Dia buat apa untuk orang balim atau jayawijaya,pertanyaan ini sudah tertanam dalam benak masyarakat jayawijaya. Jangan jangan seperti batu di lemparkan di kolam,gempita pemilu 2013 yang lalu tak ubahnya dengan riak air yang radius kian meluas dan menghapus.Untuk selanjutnya permukaan kolam itu kelihatan akan tenang staknan lagi.
Bolehlah kita dapat tidur nyenyak bermimpi atau tidak.

namun perumpamaan itu tidak kalah begitu tepat apa bila meninjau gejolak yang di tumbuhkan selama kampanye dan setelah pemilih usai.
kotornya permainan politik berakibat faktal dan ketidak majuan daerah kian merubah fiktif belaka tentang janjinya.


Ditulis Oleh: Musa Haluk SE.MM


Senin, 4 Desember 2017
Editor: Arman asso